SELAMAT DATANG CALON PESERTA DIDIK TAHUN PELAJARAN 2019/2020 KAMI TELAH BUKA PENDAFTARAN MULAI 10 NOVEMBER 2018

Orientasi Pendidikan Intrinsik dalam pendidikan Global

Aldi Ferdiyan | Rabu, 12 November 2014 | 11:23 WIB

Share Tweet Google+



Salah satu yang penting dikaji dalam pendidikan global ini adalah orientasi pendidikan intrinsik (intrinsic education). Seperti yang dikemukakan Semiawan Cony (2011) dalam tulisanya di Kompas 5 April 2011 berjudul Orientasi Baru dalam Ilmu Pendidikan, bahwa tantangan bagi teori pendidikan modern adalah dipersonalkannya interprestasi dari orientasi intrinsik diperbatasan efek moderenisasi dalam perkembangan sosial masyarakat. Diperlukan kesadaran baru setelah merefleksikan secara objektif efek modernisasi terhadap kehidupan serta diperlukan sikap baru terhadap realitas maupun terhadap diri sendiri.

Salah satu kegagalan yang paling sering ditemukan dalam pendidikan adalah bahwa siswa jarang mengatakan mereka menemukan belajar bermanfaat secara intrinsik (Csikszentmihalyi & Larson, 1984).Ini adalah masalah penting.Salah satu kesimpulan dari penelitian dari dua dekade terakhir adalah bahwa motivasi ekstrinsik saja tidak cukup mempengharuhi terhadap peningkatan prestasi siswa (Lepper & Hodell, 1989).

Menurut Daniel Sedory (2002) Program Director of the Athletic Training Educational Program at the University of New Hampshire. Pendidikan intrinsik sebagai berikut: Intrinsic Education : Linking today's course content to tomorrow's. Jadi pendidikan harus terkait dengan kebutuhan seseorang dimasa datang. Pendidikan bukanlah hanya untuk belajar ilmu saja, tapi pendidikan harus dapat mempersipakan pribadi yang bisa bersaing di masa depan.Ciri utama paradigma pendidikan intrinsik adalah Mengalihkan fokusBagaimana guru bisa membuat perubahan kepada siswa yang berpusat pada siswa?Seperti yang dikemukakan Sedory (2002) How can you make the shift to student-centered learning? Paradigma ini sebenarnya sejalan dengan paradigma yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara yang kita banyak ditinggalkan. Seperti yang dikemukakan Semiawan Cony (2011) Ciri dan paradigma pendidikan intrinsik memiliki kesamaan dengan asas-asas pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Langkah pertama menuju cita-cita belajar adalah untuk mengenali hubungan jangka panjang antara apa yang Anda pelajari di kelas hari ini dan apa yang akan lakukan pada pekerjaan satu dekade atau lebih dari sekarang. Setelahmengenali hubunganya, maka minat siswa akan terangsang dan siswa akan ingin berubah dari pasif menjadi aktif di kelas.Sayangnya, banyak siswa yang tidak membuat keterkaitan ini, sehingga siswa cenderung untuk membatasi pandangan mereka tentang tujuan belajar untuk tujuan sesaat (pragmatis), merekabelajar mengumpulkan kredit dan mendapatkan nilai baik, lulus atau gelar kesajanaan.

Langkah kedua yang dapat dilakukan ke arah yang lebih berpusat pada siswa adalah memahami perbedaan antara belajar termotivasi secara intrinsik dan termotivasi belajar secara ekstrinsik. Kebanyakan siswa pada saat ini termotivasi karena secara ekstrinsik, seperti lulus ujian berikutnya, mendapat sertfikat, atau mendapat gelar. Dengan demikian ketertarikan terhadap matapelajaran hanya pada penyelesaian soal-soal ujian dan sertifikat. Hal ini akan menghilangkan makna pendidikan yang sesungguhnya. Sistem penilaian yang digunakan sekarang yang hanya menekankan pada aspek konitif saja sangat bertentangan dengan pendidikan intrinsik. Karena siswa lebih digiring dan dilatih untuk tujuan sesaat mencapai KKM dan naik kelas atau lulus ujian.

Sebaliknya, siswa yang termotivasi secara intrinsik memiliki kepentingan dalam materi pelajaran itu sendiri, karena mereka memahami bagaimana kaitannya dengan tujuan jangka panjang karir.Daniel Sedory (2002)Telah menemukan bahwa siswa termotivasi secara intrinsik tidak puas untuk duduk dan menerima informasi, tetapi akan mengajukan lebih banyak pertanyaan dan akan berpikir tentang bagaimana informasi yang disajikan dalam kelas berhubungan dengan topik sebelumnya dibahas dalam kelas maupun untuk ketrampilan kerja dan kemampuan.

Sementara lingkungan kelas yang ideal menciptakan hubungan antara apa yang diajarkan dan belajar dengan kehidupan nyata, kadang-kadang itu tidak terjadi.Namun, kita dapat menghubungkan sendiri dengan menciptakan dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan di luar kelas.Misalnya, bukan mempelajari cedera pergelangan kaki dengan hanya membaca buku dan melihat catatan saja, cobalah untuk membayangkan bagaimana cedera yang mungkin muncul dalam pemain sepak bola, seorang atlet remaja, atau pemain softball.Bagaimana cedera yang berbeda dalam setiap situasi?Bagaimana jadinya serupa?Apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam manajemen Anda masing-masing?

Penerapan pengetahuan untuk situasi dunia nyata akan meningkatkan sifat, intrinsik pribadi belajar.Seperti situasi timbul selama pendidikan klinis, gunakan kesempatan itu untuk meninjau pengetahuan tentang cedera itu.Cobalah untuk mempercepat pemahaman dan pemahaman melalui komunikasi dengan atlet yang sedang dirawat (untuk mendapatkan perspektif pribadinya pada cedera), Anda mengawasi pelatih atletik (untuk wawasan pengalaman mereka), dan dokter (untuk mengakses perspektif medis) .

Bekerja dalam kelompok juga dapat meningkatkan belajar secara keseluruhan.Pertemuan secara teratur dengan sesama siswa memberi kesempatan untuk berbagi cerita, membandingkan perspektif, dan mengidentifikasi area umum yang perlu belajar lebih lanjut atau klarifikasi.Siswa tidak perlu takut bertanya "Apa tujuan pembelajaran itu?"

Ketika siswa mampu mempersonalisasi pembelajaran, dengan sendirinya akan meningkatkan nilai.Nilai ini diukur dan dinilai melalui refleksi saat siswa mengembangkan rasa tanggung jawab dan kemampuan untuk masa depan.Kita semua perlu mengidentifikasi seting kita sendiri nilai-nilai, keyakinan, dan pengalaman dalam profesi.Jadi, tanyakan pada diri siswa apa yang dipelajari hari ini, apa yang didapat siswa hari ini dan apa yang dibutuhkan siswa. Secara umum faktor-faktor yang mendorong

Malone dan Lepper (1987) telah mendefinisikan motivasi intrinsik lebih sederhana dalam hal what people will do without external inducement(apa yang orang akan lakukan tanpa bujukan eksternal) kegiatan hakekatnya memotivasi adalah mereka di mana orang akan terlibat tanpa imbalan selain bunga dan kenikmatan yang menyertai mereka.. Malone dan Lepper telah terintegrasi sejumlah besar penelitian tentang teori motivasi ke dalam sintesis cara untuk merancang lingkungan yang secara intrinsik memotivasi. Sintesis ini diringkas dalam tabel berikut:

Faktor

Deskripsi

Terkait Pedoman

Menantang

Orang-orang terbaik termotivasi ketika mereka bekerja menuju tujuan pribadi yang bermakna pencapaian membutuhkan aktivitas pada tingkat sedang terus megoptimalkan mengatasi kesulitan.

  1. Tetapkantujuan pribadi yang berarti.
  2. Membuat pencapaian tujuanmungkin tapi pasti.
  3. Dalam perjalanannya Berikanumpan balik kinerja.
  4. Berkaitan tujuan untukharga diripeserta didik.

Rasa ingin tahu

Sesuatu dalam lingkungan fisik menarik perhatian pelajar atau pada tingkat optimal perbedaan antara pengetahuan /keterampilan dan apa yang bias, jika pelajar terlibat dalam beberapa kegiatan.

  1. Merangsangkeingintahuan sensorikdengan membuat perubahan mendadak yang akan dirasakan oleh indera.
  2. Merangsangkeingintahuan kognitifdengan membuat heran orang tentang sesuatu (yaitu, merangsang minat pelajar).

Kontrol

Orang memiliki kecenderungan dasar untuk ingin mengontrol apa yang terjadi kepada mereka.

  1. Jelaskanpenyebab-akibat hubunganantara apa yang siswa lakukan dan hal yang terjadi dalam kehidupan nyata.
  2. Aktifkan peserta didik untuk percaya bahwa pekerjaan mereka akan menimbulkanefek yang kuat.
  3. Memungkinkan peserta didik untuksecara bebas memilihapa yang mereka ingin belajar dan bagaimana mereka akan mempelajarinya.

Fantasi

Pembelajar menggunakan gambaran mental dari hal-hal dan situasi yang tidak benar-benar hadir untuk merangsang perilaku mereka.

  1. Membuatpermainankeluar dari pembelajaran.
  2. Membantu peserta didik membayangkan diri merekamenggunakaninformasi yang dipelajari dalam kehidupan nyata pengaturan.
  3. Buatlahfantasiintrinsikdaripadaekstrinsik.

Kompetisi

Peserta didik merasakan puas denganmembandingkan kinerja mereka terhadap orang lain.

  1. Persaingan terjadi secara alami maupun buatan.
  2. Kompetisi lebih penting bagi sebagian orang daripada untuk orang lain.
  3. Orang yangkalahdi kompetisi sering menderita lebih dari keuntungan pemenang.
  4. Kompetisi kadang-kadang mengurangi dorongan untuk membantu peserta didik lainnya.

Pengakuan

Peserta didik merasakan puas ketika orang lain mengakui dan menghargai prestasi mereka.

  1. Pengakuan mensyaratkan bahwa proses atau produk atau beberapa hasil lain dari kegiatan pembelajaran.
  2. Pengakuan berbeda dari persaingan dalam hal itu tidak melibatkan perbandingan dengan kinerja orang lain.

Intrinsic Ecucation Vs Asas-asas Ki Hajar Dewantara

Pentingnya tumbuh motivasi secara instrinstik telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Pertama dapat kita memamahimnya dalam konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro bahwa mendidik adalah berdaya upaya (bewust) untuk memajukan hidup, tumbuhnya budi perkerti (rasa-fikiran-rokh) dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan (lering, voorbeeld en gewenning) jangan disertai perintah dan paksaan (regering en tucht).

Menurut Ki Hajar Dewantoro pendidikan harus merdeka sehingga menolak perkataan perintah dan paksaan. Perintah yang dimaksud adalah suruhan guru secara otoriter atau dogmatis untuk melakukan kebaikan. Sedangkan paksaan adalah segala aturan yang dapat mencegah kejahatan dan dalam pengertian hukuman dan ganjaran (funishment dan rewards). Dalam artian anak jangan sampai hanya melakukan perintah (dawuh) saja, atau lebih tegas lagi anak jangan hanya biasa bersemangat karena perintah saja, tetapi hendaknya ia bersemangat karena merasa wajib bersemangat. Ganjaran dan hukuman tidak diberikan, untuk menjaga jangan sampai anak bisa bersemangat hanya kalau ada untung (ganjaran) atau karena hanya takut mendapat hukuman.

Menurut Ki Hajar Dewantara teori itu memang sulit untuk dilakukan, tetapi tetap kita mengedepankan hal yang pokok dalam pendidikan, yaitu : tertib, damai, tatalan tentrem, laras dan wirama, merdeka dan berdiri sendiri, mandiri dan mempribadi. Karena kalau diartikan tidak benar sering kali terjadi di kelas terjadi keributan yang tak terkendali dengan alasan memerdekakan anak murid. Guru tidak berani menghukum anak-anak yang salah, serin kali anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan guru tidak berani bertindak dengan alasan “pendidikan merdeka”. Menurutnya kemerdekaan dalam pendidikan harus diartikan dari aspek berikut:

(a) Tidak hidup terperintah;

(b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; dan

(c) Cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Menurutnya ketiga hal tersebut harus diingat, bila kemerdekaan tidak diartikan ke dalam tiga hal tersebut maka “kemerdekaan pendidikan” menjadi salah kaprah.

Dalam menerapkan hukuman dan ganjaran terhadap murid Ki Hajar Dewantara menyaratkan 10 cara yang mencerminkan “pendidikan merdeka”.

1. Ganjaran dan hukuman harus datang sendirinya sebagai hasil pekerjaan dan keadaan; 2. Pendidik hanya membantu kodrat-iradatnya;

  1. Menghukum secara adil dengan menberikan hukuman atau ganjaran sendiri;

4. Anak-anak yang bersalah akan kesalahanya dan rela menerima akibatnya;

5. Anak-anak lain harus didik benci kejahatan dan cinta kebaikan;

6. Anak anak harus mengenti tentang kemerdekaannya yang menyangkut tiga hal di atas;

7. Anak harus dididik menghormati kemerdekaan orang lain;

8. Kalau anak melakukan pelanggran harus segera ditindak, jangan berfikir boleh melakukan kesalahan;

9. Pertama kali pendidik boleh memberi ampun, tetapi tanamkan rasa penyesalan dan tidak akan menguang kembali; dan

10. Segala hukuman harus selaras dengan keadaannya, jangan bersifat balas dendam dan harus dilakukan dengan sabar dan rasa kecintaan.

Dalam asas-asas pendidikan Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan berkuasa menguatkan kehendak, berkuasa menjernihkan fikiran dan berkuasa menghaluskan fikiran dan yang paling penting mengembangkan budipekerti yang cerdas, Hal tadi menyebabkan manusia cakap memerintah diri, sehingga sengaja dengan insyaf (sadar) secara terus-menerus memerintah dirinya sendiri untuk mendesak serta mengalahkan tabiat-tabiat dasar yang buruk yang ada dalam dirinya. Dalam hal ini pendidikan berkewajiban membentuk budipekerti sehingga kita dapat mengusai diri sendiri. Disitulah letaknya keluhuran jiwa manusia yang berhak menyandang predikan sebagai “makhluk Tuhan yang terpilih”.

Dari uraian singkat tentang asas-asas pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat disimpulkan bahwa asas-asas tersebut sejalan dengan konsep intrinsic education yang intinya bahwa setiap manusia mempunyai keunikan, kelebihan dan kekurangan yang dianugrahkan Tuhan. Kelebihan dan kekurangan itulah yang masih tersembunyi pada anak-anak didik. Sehingga pendidikan bertugas untuk mengaktualisasikan bakat dan kelebihannya agar nampak dan berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi lingkungannya.


Intrinsic Ecucation Vs Pendidikan Islam

Islam sebagai rahmatan lil’alamain memilik konsep-konsep pendidikan yang berlaku sepanjang jaman dan sesuai dengan nilai nilai intrinsik kemanusiaan, baik secara fisik maupun secara kejiwaan.Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri), motivasi yang didasarkan pada sebuah ‘nilai’ dari kegiatan yang dilakukan tanpa melihat penghargaan dari luar.

Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.

Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadist dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan ” Insan Rabbani” yang beriman, bertakwa dan beramal soleh.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:

  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah)pendidikan yang baik harus menggunakan lima metode berikut :

  1. Keteladanan atau Qudwah,
  2. Pembiasaan atau Aadah,
  3. Nasehat atau Mau’izhoh,
  4. Kontrolatau Mulahazhoh,
  5. Sistem sangsi atau Uqubah.

Setelah bicara Metode, selanjutnya adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT. Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut menurut Muhammad Quthb adalah:

(1) Pendidikan Keimanan

(2) Pendidikan Akhlaq (Moral/budipekerti)

(3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (Filsafat)

(4) Pendidikan Fisik(IPA)

(5) Pendidikan Sosial (IPS)

(6) PendidikanKejiwaan/ Kepribadian

(7) Pendidikan Kejenisan (sexual education).

Islam memandang pendidikan harus mengembangkan manusia menjadi manusia yang tinggi derajatnya atau manusia paripurna yang tidak hanya mencerdaskan akalnya, dan menguatkan fisiknya, tetapi juga ruhaninya yang kita harapkan akan muncul pada diri secara intrinsik. Paling tidak ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:

  1. Selamat aqidahnya,
  2. Benar ibadahnya,
  3. Kokoh akhlaqnya,
  4. Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan,
  5. Jernih pemahamannya,
  6. Kuat jasmaninya,
  7. Dapat melawan hawa nafsunya sendiri,
  8. Teratur urusan-urusannya,
  9. Dapat menjaga waktu,
  10. Berguna bagi orang lain.

Seperti dekemukakan sebelumnya bahwa salah satu ciri pendidikan intrinsik adalah what people will do without external inducement yang sejalan dengan konsep Ki Hajar dewantoro bahwa pendidikan jangan didasarkan pada paksaan atau perintah yang didasari oleh hukuman dan ganjaran. Tetapi harus bangkit dalam dari dalam diri manusia (Instrinsic Motivasion), sehingga semangat belajar bukan hanya pengaruh paksaan dari luar, tetapi tumbuh karena kesadaran diri rendiri. Hal ini sejalan dengan pendidikan dalam Islam bahwa pendidikan harus didasari pertama-tama dengan iman yang di bangun dari kesadaran diri sebagai makluk Tuhan yang bertugas mengelola bumi (khalifatulfilardhi). Dengan iman ini menurut Iman Ghozali akan tumbuh rasa harapan (roja) dan khawatir (khouf) yang mendasari orang untuk bentindak. Keiman yang tinggi mengajarkan ikhlas, hakikat keikhlasan adalah tumbuhnya semangat amal secara intrinsik dalam diri manusia, tampa dipengaruhi ekstrinsik.

Dikaitkan dengan tujuan masa depan (Linking today's course content to tomorrow's) dalam pendidikan Islam lebih jauh lagi, bahwa manusia tidak hanya mengejar tunjuan-tujuan pragmatis, tetapi memiliki tujuan hakiki dalam mencapai kesempurnaan manusia sebagai makluk taqwa yang memiliki keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, keseimbangan antara perkataan (teori) dan amal (praktek), keseimbangan antara pengembangan indivdual dengan pemenuhan komunal, kepentingan diri dan kepentingan umum dan keseimbangan antara pemenuhan tujuan jangka panjang dan pemenuhan tujuan jangan pendek (fidhunya hasana wafilakhirati hasanah). Untuk membangkitkan belajar manusia Islam memiliki dua pendekatan dengan kabar gembira (basyiraan) dan kabar buruk (najiraan) atau ganjaran dan hukuman yang dikenal juga dalam konsep pendidikan funishment dan rewards.

Mengenai materi apa yang harus dikuasai manusia sejalan dengan intrisic education, dalam Islam dikenal ada ilmu yang wajib dikuasa oleh seluruh manusia ada yang harus dipelajari oleh seseorang menurut bakat dan kodratnya. Islam memandang individual sebagai makhluk yang memiliki perbedaan potensi masing-masing yang dikenal dengan kodrat. Sejalan dengan pemikiran filsafat dan praktek pendidikan islam menurut Syed. M. Naquib Al-Attas (1998) bahwa ada ilmu yang fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu yang fardhu ain sebagai ilmu dasar-dasar kemanusia wajib dimiliki oleh semua manusia seperti ilmu Tauhid, Fiqih dan Muamalah, yaitu ilmu yang mendasari orang untuk menjalani kehidupan dimana saja ia berada dalam kedudukan manusia sebagai makhluk Tuhan dan sebagai anggota kumunitas alam yang saling terkait. Sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu spesialis yang wajib dipelajari oleh orang-orang tertantu sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti ilmu kedokteran, ilmu nuklir, geologi, astronomi, pedagogik, Farmasi, Agonomi, ekonomi dll.

Dengan demikian Islam memandang pendidikan harus mengembangkan manusia menjadi manusia yang tinggi derajatnya atau manusia paripurna yang tidak hanya mencerdaskan akalnya, dan menguatkan fisiknya, tetapi juga ruhaninya yang kita harapkan akan muncul pada diri secara intrinsik.

Berdasarkan kajian di atas tergambar bahwa pendidikan sekarang harus sesuai dengan tuntutan global bukan hanya pada saat ini, tetapi harus dapat menjawab tantangan ke depan. Pendidikan tersebut salah satunya dapat dicapai melalui intrinsic education. Bagi bangsa Indonesia yang merupakan bagian dari dunia global harus dapat menyiapkan tenaga-tenaga yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat Internasional, akan tetapi jangan diartikan pendidikan yang harus menstandarkan pada standar negara lain yang memiliki latar budaya, filosofi dan kondisi alam yang berbeda. Pendidikan global jangan sampai mengenyampingkan budaya nasional diganti dengan akar budaya barat yang hampa dengan nilai-nilai keagamaan atau hanya mengejar tujuan pragmatis belaka.

Bahan Bacaan:

Muhammad Quthb, 2008. Manhaj Tarbiyah Islamiyah diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam”. Al-Ma’arif Bandung.

Ki Hadjar Dewantara, 1977. Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta.

Semiawan Cony, 2011. Orientasi Baru dalam Ilmu PendidikanKompas 5 April 201, Jakarta.

Syed. M. Naquib Al-Attas 1998. Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam. Terjemahan Wan Mohd Nor Wan Daud

Tilaar, H.A.R., 2007. Mengembangkan Ilmu Pendidikan Berdimensi Global di Indonesia, Lembaga Managemen UNJ, Jakarta


    Artikel Sekolah

    Komentar

    comments powered by Disqus